Feeds:
Pos
Komentar

We are hiring

Yes, we are growing. Now, we are hiring. Please check it out here, http://unitedcoders.net/vacancy

Laporan Yang Harus Ditolak

Laporan-laporan yang harus ditolak:

1. Tidak Jelas

Laporan yang tidak mengandung informasi yang bisa membantu.

  • Di pc client suka error, tolong dibantu
  • Mas, tadi ada error di MKIOS, itu kenapa mas?
  • PC saya tiba-tiba suka restart sendiri, tolong diremote.
  • Kadang-kadang pas lagi cek stok, terus mati sendiri.
  • Pak, mkios saya ngga jalan.
  • Kayaknya ada sesuatu yang aneh di pc saya, mungkin sejak saya upgrade ke versi xxx.

2. Tidak Lengkap

Laporan yang menyebutkan pesan error tapi tidak menyebutkan spesifikasi dan versi yang digunakan.

  • Pas lagi transaksi Indosat Sev suka ngadat, tolong dibantu.
  • Di sms client, ada error “modem tidak merespon/timeout”
  • Waktu kirim transaksi muncul socket error.

3. Tidak Ada Bukti

Laporan yang tidak disertai log, screenshot, dan data yang sedang diproses.

4. Tidak Benar

Laporan yang kontradiktif, ambigu, dan tidak memiliki basis argumen yang valid.

Mengapa harus ditolak? Kok kejam sekali sih.

Laporan yang tidak jelas tak dapat diketahui akar penyebabnya. Laporan yang tidak lengkap tak dapat diketahui efeknya. Laporan yang tidak ada bukti tak dapat diketahui situasinya. Laporan yang tidak benar tidak bisa dicarikan solusinya.

Dalam kegiatan problem solving, penting untuk memiliki informasi yang valid, jelas dan lengkap. Informasi yang tidak valid, tidak jelas dan tidak lengkap dapat menimbulkan asumsi yang salah. Dari asumsi yang salah tersebut, maka solusinya pun bisa salah.

Apalagi jika dari asumsi yang salah, menimbulkan perubahan pada source code. Maka, kode yang mengandung bug tetap tidak terdeteksi sementara kode yang sudah benar menjadi salah.  Hal ini mempertinggi resiko, dan menyebabkan penurunan kualitas software akibat bug yang ditimbulkan.

Oleh sebab itu, pastikan hanya laporan yang valid, jelas, dan lengkap yang kita follow up.

Voucha3 tidak hanya istimewa dalam soal fitur. Tapi juga istimewa dalam proses pengembangannya. Bisa dibilang, inilah versi yang pertama kali menggunakan sistem development modern. Dibandingkan Voucha II, proses pengembangan Voucha3 jauh lebih maju.

Effort yang kami curahkan dalam pengembangan software pulsa Voucha3 tidak hanya melulu soal konstruksi software pulsa itu sendiri. Kami juga mengerahkan effort yang sangat besar dalam menyempurnakan sistem development sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Karena kami percaya, investasi yang dicurahkan di penyempurnaan sistem development pasti membuahkan hasil yang nyata. Baik itu investasi modal kapital, investasi sumber daya manusia, maupun investasi waktu.

Tidak terasa, sudah lebih dari satu tahun. Effort itu sudah membuahkan hasil yang dapat kita rasakan. Bugfix lebih cepat, rilis lebih cepat, dan support lebih cepat, itulah yang paling menonjol.

Sebelumnya, bugfix adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu dan menyita tenaga dan pikiran. Belum ditambah masalah komunikasi dengan client yang informasinya ambigu, kurang jelas, dan seringkali asal. Maklum, orang panik kayak gimana sih.

Begitu juga dengan rilis, estimasi sering meleset atau molor. Schedule sering direvisi berkali-kali.Hmm, nampaknya kita harus belajar banyak pada Microsoft.

Untuk support, jalur hotline ada, jalur ym ada, jalur helpdesk ada. Tujuannya, supaya termonitor dengan baik. Dan ada laporan dokumentasinya. Tapi, yang jadi kendala itu isi informasinya.

Dengan tiga komponen utama, progress development kini makin terasa lebih cepat. Dan akhir tahun 2008 ini, mudah-mudahan komponen keempat sudah berjalan lancar dengan penambahan server baru untuk development.

Apakah komponen keempat itu? Rahasia dong!

Terima kasih untuk tim support yang telah banyak memberikan masukan yang positif.

Bug Regression

Pernah dengar istilah Bug Regression? Atau pernah mengalaminya? Apa itu Bug Regression? Berikut penjelasannya:

Bug Regression is when an issue that you’ve fixed sneaks back in your code. This problem happens when you accidentally put bad code back into the SCM (after the problem has been fixed), or when the same mistake is reintroduced. Regression bugs are quite a frustrating issue.

If you write a test for every bug you fix and run it in your CI system, the system catches Bug Regressions when the offending code is checked in. This strategy effectively stops Bug Regressions.

Ship it!: A Practical Guide to Successful Software Projects

Contoh bug regression yang pernah saya alami bisa dibaca di posting ini: Keki sama MKIOS

Dua hari yang lalu (17 September 2008 waktu sono), orang-orang di EnterpriseDB kirim pengumuman. Isinya, mereka bikin aplikasi yang siap pakai bersama PostgreSQL di Windows. Aplikasi-aplikasi itu antara lain:

 

  • ApachePHP, versi preconfigured dari Apache webserver dan PHP.
  • phpPgAdmin, tool manajemen database berbasis web.
  • Drupal, content management system yang cukup populer.
  • mediaWiki, software untuk membuat Wikipedia.
  • phpBB, bulletin board system, buat bikin forum.
  • phpWiki, software untuk bikin Wiki juga.
  • EnterpriseDB MySQL Migration Wizard, software untuk migrasi database dari MySQL ke PostgreSQL.
  • EnterpriseDB Tuning Wizard, utilitas untuk konfigurasi database PostgreSQl dengan teknologi Dynatune dari EnterpriseDB.
Untuk instalasinya, gampang! Buka Application Stack Builder dari menu program PostgreSQL. Kemudian pilih dan download package yang Anda inginkan. Ikuti wizard instalasinya dan jreeng… package tersebut sudah siap dijalankan di sistem server Anda.
Versi Linux dan Mac untuk package tersebut akan menyusul.
PostgreSQL - Application Stack Builder

PostgreSQL - Application Stack Builder

PostgreSQL - Application Stack Builder

PostgreSQL - Application Stack Builder

Adanya pre-configured package di Application Stack Builder ini sangat membantu saya untuk mendeploy sistem Voucha3 yang berbasis PostgreSQL 8.3. Selama ini, package Apache, PHP saya sertakan bersama PostgreSQL 8.3 dalam bentuk unattended install.

Orang IT ber-EQ rendah?

Ini artikel saya copy paste dari web Bisnis Indonesia. Link aslinya ada di bawah. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tanya:

Pak Anthony Dio Martin,

Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT (information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Saya pun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang berada di IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara, sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya seringkali terjadi perdebatan.

Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat tidak suka berbagi pengetahuan.

Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah. Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.

Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeri dengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punya cita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager maupun orang tua seperti saya?

Jarot S, Bekasi

Jawaban

Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, Harvard Business Review.

Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya.

Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semua orang IT.

Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang seperti: (1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ daripada EQ dalam pekerjaannya, (2) mereka lebih sulit berempati dan jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak, (3) secara sosial pun orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta (4) orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripada manusia (people).

Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah berkomentar soal suaminya, “Saat di depan komputer, itulah saat mereka di dunia mereka sesungguhnya”.

Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik dengan unit lain karena beda persepsi.

Kurang fair

Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan ‘khas’ dan kurang fair yang seringkali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.

Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanya soal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar suatu proyek yang tengah dikerjakan.

Dan buruknya, para orang IT-un sering dicap nerd, dikotakkan dan ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.

Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat penting bagi orang IT dewasa ini. Pertama, IT merupakan fungsi yang sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan.

Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa disalahgunakan untuk hal yang merusak. Kedua, orang-orang IT pun sebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi, IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini.

Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan pihak lain. Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang IT sendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipe yang keliru itu.

Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain, khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni dan hobi lain.

Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya. Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu serta terlibat dengan bidang-bidang lain.

Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.

Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.

Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.

Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar mengasah EQ serta business sense mereka.

Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa “Yang menakutkan kita bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi manusia yang pikirannya seperti komputer”.

Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So, tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQ tinggi!

Sumber
Bisnis Indonesia :Orang IT ber-EQ rendah?

Syntax Test

Testing

unit Ants;

interface

type

  TAnt = class(TObject)
  private
    FStatus: integer;
  public
    property Status: integer read FStatus write FStatus;
  end;

implementation

end.

Semua generalisasi itu berbahaya, termasuk pernyataan ini.
~Filsafat Ilmu, Jujun Suriasumantri

Pada posting sebelumnya, yang berjudul Bangsa yang serba bukan-bukan saya berangkat dari sebuah sudut pandang atau sebuah perspektif seorang manager (yaitu senior saya), kemudian membandingkan kesimpulan tersebut dengan perspektif lainnya yaitu sosial. Hasilnya memang aneh dan agak lucu. Aneh, karena rasanya ada kemiripan. Lucu, karena istilah “serba bukan-bukan” itu bisa nyambung.

Namanya juga sharing, ngobrol, ceritanya kan lagi konsultasi sama yang lebih senior. Tentu pembicaraannya jauh dari konteks teknis atau konteks bisnis. Karena yang dicari adalah nasihat, bukan juklak dan juknis. Hasilnya: sebuah generalisasi.

Kalau dihubungkan dengan konteks tertentu, ya belum tentu ada kesepakatan. Bisa benar, bisa salah. Beda lapangan masalahnya, ya beda juga penanganannya. Walaupun Hukum Newton itu sifatnya invariant (tetap berlaku) dalam Teori Relativitas, ada yang namanya transformasi Laplace dan Hamilton bukan?

Generalisasi berhubungan dengan relasi antar fenomena. Konteks berhubungan dengan kondisi awal, kondisi akhir, syarat batas, magnitude dan operator yang digunakan.

Fenomena? Ternyata bukan di Indonesia aja tuh. Di negeri asalnya, Amerika sono juga begitu. Di Malaysia pun begitu, di Australia pun begitu, di Inggris pun begitu.

Jangan lupa, cerita tersebut terjadi di era awal 90-an. So yesterday…

OK, ebonk. So what’s your point?

Saya akui posting sebelumnya itu memang generalisasi. Karena jika dibuat sesuai konteks masing-masing, lebih baik dibikin thesis aja kali ya.

Kalau tulisan itu menimbulkan persepsi lain, dianggap menjelek-jelekkan bangsa sendiri, ah… rasanya memang tidak mudah untuk obyektif , tapi mohon dimaafkan.

Terima kasih untuk semua komentarnya. Maju terus Indonesia!

Bangsa yang serba bukan-bukan

If you think that technology can solve your security problems, then you don’t understand the problems and you don’t understand the technology. ~Bruce Schneier.

Bangsa ini punya kebiasaan yang unik. Tidak mau dibilang kapitalis, tapi tidak mau dibilang komunis juga. Tidak mau dibilang konservatif, tapi tidak mau dibilang radikal juga.

“Kita bukan barat, kita beda dengan barat”

“Kita bukan blok timur, kita non-blok”

Saya punya kisah dari seorang senior yang pernah bekerja di IBM. Pada awal periode 90-an, dia menawarkan produk software akunting buatan luar negeri untuk dijual di Indonesia. Yang namanya software akunting, pasti harus sesuai standar yang berlaku di sana dan mengikuti aturan yang ditetapkan yaitu Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

Seorang client berminat dan membeli produk tersebut. Tapi setelah client tersebut melihat tampilan dan alur program tersebut, dia meminta software tersebut diubah. Mengapa?

  1. “Karena kita beda, mas! Kita ngga ikut standar yang ada”.
  2. “Tampilannya kurang sesuai dengan yang kita mau.”
  3. “Kita mau fitur-fitur ini dihilangkan, karena kita ngga pake”
  4. “Kebutuhan saya beda dengan orang lain, jadi harus diganti”

Akhirnya software tersebut “dimodifikasi” agar sesuai keinginan client tersebut. Tambah ini itu. Tampilannya dirombak sedemikian rupa. Fitur-fitur tertentu dirombak ulang, bahkan dicabut.

Apa yang terjadi?

Apakah sistem informasi akunting tersebut bisa bekerja sesuai keinginan client tersebut? Tidak. Justru sebaliknya, malah jadi ngga karuan. Dan proyek jadi buntu alias jadi dead project. Sampai akhirnya PC baru dengan sistem operasi Windows 95 muncul di pasaran, sistem tersebut belum bisa dijalankan.

Software memang produk teknologi. Teknologi yang dikerjakan dari proses, untuk proses dan oleh proses. Membuat software tidak seperti membuat nasi goreng. Anda bisa makan nasinya saja, tanpa bumbu, tanpa kerupuk, tanpa daging, tanpa telor.

Masalah muncul karena orang pesan “nasi goreng” ke pengembang software.

  1. “Saya mau tambah ini, besok udah selesai ya”
  2. “Tampilannya harus diganti, saya lebih suka pakai warna biru”
  3. “Kan tinggal tambah ini aja, gampang kan…”

Heyyyyyy…. mau pesan “nasi goreng” atau hamburger? Gampang gundulmu!

Proses yang berantakan: akhirnya software asal jadi, kualitas rendahan, lebih banyak bug daripada fungsi. Dan baik pengembang software dan clientnya bekerja lebih banyak hanya untuk memproduksi bug dari pada memproduksi software.

Hanya karena kita pengen beda. Karena kita bukan kapitalis, bukan komunis, bukan barat, bukan timur, bukan mereka, bukan siapa-siapa….

Akhirnya kita jadi bangsa yang serba bukan-bukan.

Update 26-08-2008:
Baca juga Generalisasi, Konteks dan Fenomena

Kuper

(Vibiznews – Strategic) – Jakarta, Seorang direktur utama terkenal sebuah Badan Usaha Milik Negara sangat besar di negri ini pernah berujar bahwa karyawan-karyawannya “kuper”. Saya agak maklum karena dirut ini bukanlah orang karier di perusahaan itu, melainkan diimport dari luar. Lagipula ia sudah banyak makan asam garam memimpin sejumlah perusahaan yang berbeda-beda.

Dibilang begitu tentu ada banyak orang yang tidak terima.

“Ini perusahaan besar, jangan main-main,” ujar seorang senior yang sangat dihormati di sana menolak ucapan itu.

Yang lain melanjutkan: “Emangnya dia pernah punya portfolio sebesar perusahaan ini? Jelas berbeda lah.”

Singkatnya mereka tidak terima.

Begitulah manusia memang cenderung menyangkal terhadap fakta-fakta baru yang mereka dengar. Faktanya sangat benar, mayoritas orang-orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar, kemungkinan besar memang kuper (kurang pergaulan).

Bagaimana tidak?

Waktu mereka 95% dihabiskan di dalam perusahaan. Pulang-pergi adalah dari dan ke kantor yang sama. Tugas ke luar kota juga begitu. Begitu mendarat di bandara, mereka langsung dijemput protokol kantor. Jadi bergaul dengan sopir taxi saja tidak ada waktunya. Rapat, seminar, makan siang atau makan malam, pun dilakukan beramai-ramai dengan rekan kantor. Di kantor disediakan pula band pengiring untuk makan siang, sehingga siapa saja boleh bernyanyi di sana. Main tennis juga bisa di mess kantor. Bahkan tak jarang pula yang rumahnya disediakan kantor pada area tertutup untuk orang-orang lain.

Cobalah tengok ke dalam (perusahaan) dengan tatapan yang lebih halus. Spouses (pasangan, suami atau istri mereka) ternyata juga ditemukan (berjodoh) di kantor. Kasus-kasus perselingkuhan juga ditemui pada
rekan-rekan kerja. Dan yang lebih menarik lagi, semua orang betah bekerja di kantor: turn-over karyawan sangat rendah, rata-rata usia karyawan di atas kepala empat dan promosi jabatan semuanya berasal dari
dalam.

Implikasinya sangat jelas, organisasi menjadi tertutup dari dunia luar. Semua orang hanya membicarakan diri mereka sendiri, yaitu karier pribadi dan karier teman-temannya, fasilitas yang mereka terima, rezeki masing-masing, serta memperolok teman-teman yang tampak berbeda. Mereka memperolok orang yang bekerja lebih tekun dari mereka, atau mempunyai harta yang lebih banyak. Kalau ada yang rela pulang lebih larut malam dianggap sebagai penghianat dari pada prestasi. Kalau bos dekat dengan salah satu orang yang bukan anggota paguyuban mereka, akan segera disikat.

Banyak orang yang berkata bahwa orang lain tidak jujur, padahal kata-kata itu cuma refleksi dari perbuatannya sendiri. Mereka mudah tersinggung, senang ngomong negatif di belakang, tidak berani terus terang, senang menghambat orang-orang berprestasi, dan menganggap diri merekalah yang paling bermoral.

Fakta sesungguhnya: Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi di luar sana. Mereka hanya ngomel-ngomel, tapi tahukah mereka bahwa mereka sesungguhnya orang yang paling dikeluhkan?

Tentu saja masih ada orang yang tidak demikian pada lembaga-lembaga bernama besar. Mereka kerja keras, banyak gaul keluar dan berpotensi jadi pemimpin. Namun mereka sering terpinggirkan.

Fakta-fakta ini adalah persoalan terbesar dalam perubahan. Orang-orang yang tidak pernah melihat cahaya akan merasa terganggu manakala seorang membuka jendela di ujung sana. Mereka segera berteriak-teriak minta ditutup. Mereka mengabaikan pasar, mereka merasa diri merekalah yang paling tahu. Padahal mereka sedang ditinggalkan dan bahkan ditertawakan oleh pasar (konsumen).

Solusinya sederhana sekali: Buka semua jendela yang ada agar hawa segar segera masuk, nyalakan lampu-lampu yang telah lama di matikan, lalu buka pintu lebar-lebar dan biarkan orang-orang di luar masuk ke sini, dan biarkan mereka yang di dalam ikut bermain di luar. Lalu buka pelatihan-pelatihan ke luar, biarkan pelatihan-pelatihan Anda diikuti karyawan/eksekutif dari luar kantor Anda. Buat semua orang bergaul, dan hapuskan fasilitas-fasilitas paguyuban agar mereka semua mau juga bergaul di luar.

Setelah itu bongkar struktur organisasi yang tertutup, perbaiki budaya organisasi dan lindungi orang-orang baru agar tidak menjadi sama dengan orang-orang lama. Pergaulan luas adalah modal penting untuk menafsirkan evolusi. Sesuatu yang berubah tak dapat dipahami oleh orang-orang yang hanya sembunyi dalam tempurungnya masing-masing. Pergaulan luas akan mengangkat rasa percaya diri dan membuang prasangka-prasangka negatif. Lihatlah mereka akan kegerahan dan berteriak-teriak. Tapi itulah kesempatan yang terakhir bagi mereka untuk melakukan itu.

Selamat menimbulkan kekacauan, untuk kebaikan.

Disalin dari http://vibiznews.com/

Cari Tempat Baru

Kami sedang mencari rumah atau tempat yang bisa dijadikan kantor di sekitar Jakarta. Sebab, tempat yang sekarang sudah tidak cukup. Kasihan, orang berdesak-desakan karena ruangannya sempit.

Paranoid

Saya rasa tingkat paranoid saya makin menjadi-jadi setelah acara ‘perkenalan’ Voucha3 pada 8 Juni 2008 yang lalu. Mungkin kita perlu santai sejenak.

Manusia Inflasi

“Baja yang jelek tidak akan bisa kamu buat tajam”. ~Mafia Manager

Menjadi personel di United Coders, kamu akan mengalami serangkaian proses. Proses ini sering diistilahkan sebagai penggemblengan, pendidikan, pembelajaran, atau istilah semacamnya. Dan rangkaian proses ini tentu berbeda untuk tiap orang atau individu, karena karakter tiap individu yang berbeda-beda. Namun pada prinsipnya sama, yaitu TRANSFORMASI.

Transformasi berasal dari kata “to transform” yang artinya “mengubah”. Transformasi dikatakan terjadi jika ada yang berubah dari proses tersebut atau dengan kata lain, ada perubahan sifat, perubahan bentuk, perubahan makna, dan lain-lain.

Tentu, yang kami inginkan adalah kamu menjadi manusia yang unggul, manusia yang maju, baik dalam segi mental, spiritual bahkan finansial. Tidak peduli apakah kamu seorang programmer, analyst, system administrator, technical support, bahkan office boy.

Syarat mutlak untuk berhasil di United Coders adalah kemauan yang kuat, bekerja dengan makin efektif, dan keyakinan yang kuat. Sebab tanpa itu semua, kamu tidak akan pernah menjalani proses-proses transformasi itu.

Buat apa kamu bekerja di United Coders jika kamu tidak mengalami perubahan?
Buat apa kamu pindah dari kantor yang lama, jika kamu tidak mendapatkan kemajuan?
Buat apa kamu memeras pikiran dan tenaga jika kamu tidak makin maju?

Orang yang maju adalah orang yang selalu meningkatkan kualitasnya terus menerus. Jika ia seorang programmer maka ia melatih dirinya dengan teknik-teknik yang baru, dengan menulis algoritma yang makin efisien, menciptakan model yang lebih efisien, dan lain-lain. Jika ia seorang staff technical support, ia menjadi maju dengan mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan para klien.

Tanpa mengembangkan diri, kamu akan menjadi manusia inflasi. Mengapa inflasi? Karena usia kamu akan makin bertambah, sementara kemampuan kamu tidak bertambah, alhasil penghasilan kamu juga pasti segitu-gitu aja. Mungkin ada kenaikan gaji, tapi itu hanya penyesuaian terhadap inflasi tahunan.

Manusia inflasi ini disebut dengan “baja yang jelek” di buku Mafia Manager. Dengan mudah, kamu dapat menemukan manusia inflasi ini di lembaga pemerintah, kantor walikota, kantor-kantor BUMN, dan lain-lain. Mereka useless, hopeless, dan tentu saja FUTURELESS. Hampir 80 persen pegawai dinas pajak di Amerika Serikat termasuk kategori ini. Mayoritas pekerja di kantor pos kita bekerja dengan lamban.

Jangan salah, orang yang pintar juga bisa menjadi manusia inflasi. Mengapa demikian? Ada salah satu sikap yang mengubah seseorang menjadi manusia inflasi, yaitu tidak mau belajar. Sikap tidak mau belajar muncul karena merasa paling pintar, paling berpengalaman, paling mengetahui persoalan, paling jago, dll. Dengan merasa paling pintar, kamu akan merasa tidak perlu mendengarkan pengalaman orang lain. Artinya, kamu menolak informasi baru, menolak realitas baru, menolak stimulus baru, menolak inspirasi baru, dan itulah sebabnya kamu tidak berkembang.

Agar kamu menjadi manusia yang maju, buang sikap tersebut. Tidak ada cara yang terbaik, selalu ada cara yang lebih baik. Itulah salah satu cara memanusiakan diri di organisasi kita.

Sebab United Coders sejati adalah orang yang mampu memanusiakan dirinya dan orang lain.

Menyangkal Realita Baru

Oleh: Rhenald Kasali

Saya mohon maaf harus absen mengisi kolom ini beberapa kali. Sejak buku Change beredar, Saya terpaksa harus mempertanggung -jawabkan pemikiran-pemikiran Saya kepada publik. Banyak kisah nyata tentang perubahan yang Saya temui dan tentu saja ribuan curhat dari mereka yang rela dicaci-maki demi perubahan.

Menjadi Change Maker memang tidak mudah. Surat kaleng, SMS palsu, fitnah, sampai upaya-upaya fisik yang mematikan kerap harus dihadapi. Kepada kelompok ini, Saya hanya bisa mengatakan, Gandhi saja yang wajahnya begitu baik dan perilakunya menyejukkan, mereka bunuh, apalagi Anda yang bukan siapa-siapa.

Persoalan terbesar manusia di era yang berubah ini sebenarnya hanya satu, yaitu tidak berani menerima realita-realita baru. Sebagian besar karyawan, eksekutif dan birokrat yang Saya temui masih terbelenggu pada kisah sukses di masa lalu. Mereka berpikir solusi yang mereka temukan di masa lalu itulah solusi yang sesungguhnya.

Buktinya ada, yaitu bonus dan kesejahteraan. Makan siang disediakan dan karyawan bisa bergantian memainkan alat musik. Mengapa kita tidak pakai cara yang sama untuk mengatasi masalah hari ini? Seperti menemui jalan buntu, banyak orang yang tiba-tiba mulai menggunakan kata “Dulu ……” ketika memulai pembicaraannya untuk mengacu ke masa lalu.

Sinar terang yang menyinari suatu usaha bisa berarti manfaat, tapi juga bisa menjadi mudharat. IBM contohnya, sukses dengan komputer mainframe di tahun 70’an membuatnya menyangkal realita baru pasar PC. Motorola bahkan lebih gawat lagi. Setelah sukses dengan celluler analog, ia menyangkal kehadiran digital handphone dengan melakukan investasi-investasi baru pada bidang analog. Xerox juga sempat terengap-engap saat menyangkal kenyataan munculnya pasar personal-copier yang dirilis Minolta, Canon dan Ricoh. Ensiklopedia Britanica juga menyangkal realita baru membaca buku pintar yang diputar oleh Microsoft (Encarta).

Di Indonesia sendiri ada ribuan pelaku usaha yang juga menyangkal realita-realita baru. Teman-teman di perkebunan teh tengah menyangkal kenyataan bahwa masyarakat dunia sudah mulai minum teh tanpa daun teh sama sekali. Sekarang ini, pergulatan terbesar justru tengah dihadapi universitas-universitas negeri. Ada demikian banyak realita-realita baru yang bermunculan dan mereka terus berdebat dengan menggunakan ukuran-ukuran lama untuk menilai hari esok. Mereka menggunakan pengalaman-pengalaman lamanya kala bersekolah yang penuh dengan kesulitan untuk dibingkaikan pada generasi baru yang bergerak dengan cara yang berbeda. Padahal kepada mereka, Albert Einstein pernah menyatakan, “the measure of intelligence is the ability to change” (ukuran kecerdasan Anda adalah kemampuan Anda untuk berubah, menerima kenyataan baru).

Sulit dibayangkan dewasa ini masih ada banyak orang yang hidup di jaman kemarin dan dibiarkan terus mengepalai kegiatan untuk membawa organisasi ke masa lalu, tetapi semua ini juga terjadi karena organisasi dibiarkan dikuasai oleh kalangan “pedalaman” yang sepanjang hari menghabiskan waktunya di dalam kantor tanpa berinteraksi dengan dunia luar sama sekali.

Dalam setiap institusi kita dengan mudah membedakan, mana kalangan “pedalaman” dan mana yang “pesisir”. Kalangan pesisir selalu berinteraksi dengan dunia luar, tetapi ia banyak membawa hal-hal baru. Ia lebih mudah menerima fakta-fakta baru. Sebaliknya kalangan pedalaman cenderung memelihara tradisi. Seorang usahawan senior membisiki Saya, sekarang ini, katanya, “tradition is a number one killer!”. Saya pikir ini ada betulnya.

Disalin dari http://www.careplusindonesia.com

Masalah Webhosting

Saya pikir, setelah dipertimbangkan dengan masak, kita harus cari alternatif penyedia jasa hosting yang lebih baik. Website kita yang dihosting di MWN sering down (Apache-nya mabuk, MySQL-nya jeprut), sering CGI error. Mungkin di sana sudah overload.

Kita coba lagi untuk minta MWN untuk dipindah ke server lain. Berarti Ini sudah yang kedua kalinya kita minta pindah server karena masalah server overload. Coba jalankan satu bulan. Jika dalam satu bulan masih ada masalah, kita pindah ke penyedia hosting lain. Lebih mahal tidak apa-apa. Saya sudah punya calon penyedia hosting dalam negeri yang reliable dan servernya di Indonesia (juga di Gedung Cyber). Semua website kita dan punya klien yang kita hosting di MWN, kita pindahkan saja ke sana.

Exodus ke penyedia hosting ini langkah terakhir kalau langkah ini tidak membuahkan hasil. Karena resikonya para customer tidak bisa mengakses website dan menimbulkan image negatif. Kita pakai hosting untuk menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah.

Mari kita ambil pelajaran dari kesalahan Tim Support mereka:

  1. Salah diagnosa, salah mengidentifikasi masalah.
  2. Tidak mengerti permasalahan.
  3. Hanya mengandalkan knowledge base.
  4. Tidak menyelesaikan masalah.

Kesimpulan ini karena koneksi ISP lancar-lancar aja. Hanya situs yang dihosting di sana yang suka down.