Feeds:
Pos
Komentar

We are hiring

Yes, we are growing. Now, we are hiring. Please check it out here, http://unitedcoders.net/vacancy

Laporan Yang Harus Ditolak

Laporan-laporan yang harus ditolak:

1. Tidak Jelas

Laporan yang tidak mengandung informasi yang bisa membantu.

  • Di pc client suka error, tolong dibantu
  • Mas, tadi ada error di MKIOS, itu kenapa mas?
  • PC saya tiba-tiba suka restart sendiri, tolong diremote.
  • Kadang-kadang pas lagi cek stok, terus mati sendiri.
  • Pak, mkios saya ngga jalan.
  • Kayaknya ada sesuatu yang aneh di pc saya, mungkin sejak saya upgrade ke versi xxx.

2. Tidak Lengkap

Laporan yang menyebutkan pesan error tapi tidak menyebutkan spesifikasi dan versi yang digunakan.

  • Pas lagi transaksi Indosat Sev suka ngadat, tolong dibantu.
  • Di sms client, ada error “modem tidak merespon/timeout”
  • Waktu kirim transaksi muncul socket error.

3. Tidak Ada Bukti

Laporan yang tidak disertai log, screenshot, dan data yang sedang diproses.

4. Tidak Benar

Laporan yang kontradiktif, ambigu, dan tidak memiliki basis argumen yang valid.

Mengapa harus ditolak? Kok kejam sekali sih.

Laporan yang tidak jelas tak dapat diketahui akar penyebabnya. Laporan yang tidak lengkap tak dapat diketahui efeknya. Laporan yang tidak ada bukti tak dapat diketahui situasinya. Laporan yang tidak benar tidak bisa dicarikan solusinya.

Dalam kegiatan problem solving, penting untuk memiliki informasi yang valid, jelas dan lengkap. Informasi yang tidak valid, tidak jelas dan tidak lengkap dapat menimbulkan asumsi yang salah. Dari asumsi yang salah tersebut, maka solusinya pun bisa salah.

Apalagi jika dari asumsi yang salah, menimbulkan perubahan pada source code. Maka, kode yang mengandung bug tetap tidak terdeteksi sementara kode yang sudah benar menjadi salah.  Hal ini mempertinggi resiko, dan menyebabkan penurunan kualitas software akibat bug yang ditimbulkan.

Oleh sebab itu, pastikan hanya laporan yang valid, jelas, dan lengkap yang kita follow up.

Voucha3 tidak hanya istimewa dalam soal fitur. Tapi juga istimewa dalam proses pengembangannya. Bisa dibilang, inilah versi yang pertama kali menggunakan sistem development modern. Dibandingkan Voucha II, proses pengembangan Voucha3 jauh lebih maju.

Effort yang kami curahkan dalam pengembangan software pulsa Voucha3 tidak hanya melulu soal konstruksi software pulsa itu sendiri. Kami juga mengerahkan effort yang sangat besar dalam menyempurnakan sistem development sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Karena kami percaya, investasi yang dicurahkan di penyempurnaan sistem development pasti membuahkan hasil yang nyata. Baik itu investasi modal kapital, investasi sumber daya manusia, maupun investasi waktu.

Tidak terasa, sudah lebih dari satu tahun. Effort itu sudah membuahkan hasil yang dapat kita rasakan. Bugfix lebih cepat, rilis lebih cepat, dan support lebih cepat, itulah yang paling menonjol.

Sebelumnya, bugfix adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu dan menyita tenaga dan pikiran. Belum ditambah masalah komunikasi dengan client yang informasinya ambigu, kurang jelas, dan seringkali asal. Maklum, orang panik kayak gimana sih.

Begitu juga dengan rilis, estimasi sering meleset atau molor. Schedule sering direvisi berkali-kali.Hmm, nampaknya kita harus belajar banyak pada Microsoft.

Untuk support, jalur hotline ada, jalur ym ada, jalur helpdesk ada. Tujuannya, supaya termonitor dengan baik. Dan ada laporan dokumentasinya. Tapi, yang jadi kendala itu isi informasinya.

Dengan tiga komponen utama, progress development kini makin terasa lebih cepat. Dan akhir tahun 2008 ini, mudah-mudahan komponen keempat sudah berjalan lancar dengan penambahan server baru untuk development.

Apakah komponen keempat itu? Rahasia dong!

Terima kasih untuk tim support yang telah banyak memberikan masukan yang positif.

Bug Regression

Pernah dengar istilah Bug Regression? Atau pernah mengalaminya? Apa itu Bug Regression? Berikut penjelasannya:

Bug Regression is when an issue that you’ve fixed sneaks back in your code. This problem happens when you accidentally put bad code back into the SCM (after the problem has been fixed), or when the same mistake is reintroduced. Regression bugs are quite a frustrating issue.

If you write a test for every bug you fix and run it in your CI system, the system catches Bug Regressions when the offending code is checked in. This strategy effectively stops Bug Regressions.

Ship it!: A Practical Guide to Successful Software Projects

Contoh bug regression yang pernah saya alami bisa dibaca di posting ini: Keki sama MKIOS

Dua hari yang lalu (17 September 2008 waktu sono), orang-orang di EnterpriseDB kirim pengumuman. Isinya, mereka bikin aplikasi yang siap pakai bersama PostgreSQL di Windows. Aplikasi-aplikasi itu antara lain:

 

  • ApachePHP, versi preconfigured dari Apache webserver dan PHP.
  • phpPgAdmin, tool manajemen database berbasis web.
  • Drupal, content management system yang cukup populer.
  • mediaWiki, software untuk membuat Wikipedia.
  • phpBB, bulletin board system, buat bikin forum.
  • phpWiki, software untuk bikin Wiki juga.
  • EnterpriseDB MySQL Migration Wizard, software untuk migrasi database dari MySQL ke PostgreSQL.
  • EnterpriseDB Tuning Wizard, utilitas untuk konfigurasi database PostgreSQl dengan teknologi Dynatune dari EnterpriseDB.
Untuk instalasinya, gampang! Buka Application Stack Builder dari menu program PostgreSQL. Kemudian pilih dan download package yang Anda inginkan. Ikuti wizard instalasinya dan jreeng… package tersebut sudah siap dijalankan di sistem server Anda.
Versi Linux dan Mac untuk package tersebut akan menyusul.
PostgreSQL - Application Stack Builder

PostgreSQL - Application Stack Builder

PostgreSQL - Application Stack Builder

PostgreSQL - Application Stack Builder

Adanya pre-configured package di Application Stack Builder ini sangat membantu saya untuk mendeploy sistem Voucha3 yang berbasis PostgreSQL 8.3. Selama ini, package Apache, PHP saya sertakan bersama PostgreSQL 8.3 dalam bentuk unattended install.

Orang IT ber-EQ rendah?

Ini artikel saya copy paste dari web Bisnis Indonesia. Link aslinya ada di bawah. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tanya:

Pak Anthony Dio Martin,

Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT (information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Saya pun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang berada di IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara, sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya seringkali terjadi perdebatan.

Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat tidak suka berbagi pengetahuan.

Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah. Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.

Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeri dengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punya cita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager maupun orang tua seperti saya?

Jarot S, Bekasi

Jawaban

Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, Harvard Business Review.

Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya.

Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semua orang IT.

Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang seperti: (1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ daripada EQ dalam pekerjaannya, (2) mereka lebih sulit berempati dan jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak, (3) secara sosial pun orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta (4) orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripada manusia (people).

Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah berkomentar soal suaminya, “Saat di depan komputer, itulah saat mereka di dunia mereka sesungguhnya”.

Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik dengan unit lain karena beda persepsi.

Kurang fair

Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan ‘khas’ dan kurang fair yang seringkali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.

Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanya soal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar suatu proyek yang tengah dikerjakan.

Dan buruknya, para orang IT-un sering dicap nerd, dikotakkan dan ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.

Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat penting bagi orang IT dewasa ini. Pertama, IT merupakan fungsi yang sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan.

Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa disalahgunakan untuk hal yang merusak. Kedua, orang-orang IT pun sebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi, IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini.

Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan pihak lain. Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang IT sendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipe yang keliru itu.

Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain, khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni dan hobi lain.

Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya. Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu serta terlibat dengan bidang-bidang lain.

Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.

Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.

Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.

Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar mengasah EQ serta business sense mereka.

Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa “Yang menakutkan kita bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi manusia yang pikirannya seperti komputer”.

Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So, tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQ tinggi!

Sumber
Bisnis Indonesia :Orang IT ber-EQ rendah?

Syntax Test

Testing

unit Ants;

interface

type

  TAnt = class(TObject)
  private
    FStatus: integer;
  public
    property Status: integer read FStatus write FStatus;
  end;

implementation

end.
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.