Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘project management’ Category

Pernah dengar istilah Bug Regression? Atau pernah mengalaminya? Apa itu Bug Regression? Berikut penjelasannya:

Bug Regression is when an issue that you’ve fixed sneaks back in your code. This problem happens when you accidentally put bad code back into the SCM (after the problem has been fixed), or when the same mistake is reintroduced. Regression bugs are quite a frustrating issue.

If you write a test for every bug you fix and run it in your CI system, the system catches Bug Regressions when the offending code is checked in. This strategy effectively stops Bug Regressions.

Ship it!: A Practical Guide to Successful Software Projects

Contoh bug regression yang pernah saya alami bisa dibaca di posting ini: Keki sama MKIOS

Iklan

Read Full Post »

Ini artikel saya copy paste dari web Bisnis Indonesia. Link aslinya ada di bawah. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tanya:

Pak Anthony Dio Martin,

Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT (information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Saya pun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang berada di IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara, sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya seringkali terjadi perdebatan.

Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat tidak suka berbagi pengetahuan.

Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah. Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.

Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeri dengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punya cita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager maupun orang tua seperti saya?

Jarot S, Bekasi

Jawaban

Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, Harvard Business Review.

Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya.

Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semua orang IT.

Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang seperti: (1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ daripada EQ dalam pekerjaannya, (2) mereka lebih sulit berempati dan jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak, (3) secara sosial pun orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta (4) orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripada manusia (people).

Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah berkomentar soal suaminya, “Saat di depan komputer, itulah saat mereka di dunia mereka sesungguhnya”.

Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik dengan unit lain karena beda persepsi.

Kurang fair

Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan ‘khas’ dan kurang fair yang seringkali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.

Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanya soal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar suatu proyek yang tengah dikerjakan.

Dan buruknya, para orang IT-un sering dicap nerd, dikotakkan dan ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.

Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat penting bagi orang IT dewasa ini. Pertama, IT merupakan fungsi yang sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan.

Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa disalahgunakan untuk hal yang merusak. Kedua, orang-orang IT pun sebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi, IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini.

Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan pihak lain. Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang IT sendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipe yang keliru itu.

Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain, khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni dan hobi lain.

Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya. Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu serta terlibat dengan bidang-bidang lain.

Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.

Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.

Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.

Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar mengasah EQ serta business sense mereka.

Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa “Yang menakutkan kita bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi manusia yang pikirannya seperti komputer”.

Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So, tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQ tinggi!

Sumber
Bisnis Indonesia :Orang IT ber-EQ rendah?

Read Full Post »

Semua generalisasi itu berbahaya, termasuk pernyataan ini.
~Filsafat Ilmu, Jujun Suriasumantri

Pada posting sebelumnya, yang berjudul Bangsa yang serba bukan-bukan saya berangkat dari sebuah sudut pandang atau sebuah perspektif seorang manager (yaitu senior saya), kemudian membandingkan kesimpulan tersebut dengan perspektif lainnya yaitu sosial. Hasilnya memang aneh dan agak lucu. Aneh, karena rasanya ada kemiripan. Lucu, karena istilah “serba bukan-bukan” itu bisa nyambung.

Namanya juga sharing, ngobrol, ceritanya kan lagi konsultasi sama yang lebih senior. Tentu pembicaraannya jauh dari konteks teknis atau konteks bisnis. Karena yang dicari adalah nasihat, bukan juklak dan juknis. Hasilnya: sebuah generalisasi.

Kalau dihubungkan dengan konteks tertentu, ya belum tentu ada kesepakatan. Bisa benar, bisa salah. Beda lapangan masalahnya, ya beda juga penanganannya. Walaupun Hukum Newton itu sifatnya invariant (tetap berlaku) dalam Teori Relativitas, ada yang namanya transformasi Laplace dan Hamilton bukan?

Generalisasi berhubungan dengan relasi antar fenomena. Konteks berhubungan dengan kondisi awal, kondisi akhir, syarat batas, magnitude dan operator yang digunakan.

Fenomena? Ternyata bukan di Indonesia aja tuh. Di negeri asalnya, Amerika sono juga begitu. Di Malaysia pun begitu, di Australia pun begitu, di Inggris pun begitu.

Jangan lupa, cerita tersebut terjadi di era awal 90-an. So yesterday…

OK, ebonk. So what’s your point?

Saya akui posting sebelumnya itu memang generalisasi. Karena jika dibuat sesuai konteks masing-masing, lebih baik dibikin thesis aja kali ya.

Kalau tulisan itu menimbulkan persepsi lain, dianggap menjelek-jelekkan bangsa sendiri, ah… rasanya memang tidak mudah untuk obyektif , tapi mohon dimaafkan.

Terima kasih untuk semua komentarnya. Maju terus Indonesia!

Read Full Post »

If you think that technology can solve your security problems, then you don’t understand the problems and you don’t understand the technology. ~Bruce Schneier.

Bangsa ini punya kebiasaan yang unik. Tidak mau dibilang kapitalis, tapi tidak mau dibilang komunis juga. Tidak mau dibilang konservatif, tapi tidak mau dibilang radikal juga.

“Kita bukan barat, kita beda dengan barat”

“Kita bukan blok timur, kita non-blok”

Saya punya kisah dari seorang senior yang pernah bekerja di IBM. Pada awal periode 90-an, dia menawarkan produk software akunting buatan luar negeri untuk dijual di Indonesia. Yang namanya software akunting, pasti harus sesuai standar yang berlaku di sana dan mengikuti aturan yang ditetapkan yaitu Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

Seorang client berminat dan membeli produk tersebut. Tapi setelah client tersebut melihat tampilan dan alur program tersebut, dia meminta software tersebut diubah. Mengapa?

  1. “Karena kita beda, mas! Kita ngga ikut standar yang ada”.
  2. “Tampilannya kurang sesuai dengan yang kita mau.”
  3. “Kita mau fitur-fitur ini dihilangkan, karena kita ngga pake”
  4. “Kebutuhan saya beda dengan orang lain, jadi harus diganti”

Akhirnya software tersebut “dimodifikasi” agar sesuai keinginan client tersebut. Tambah ini itu. Tampilannya dirombak sedemikian rupa. Fitur-fitur tertentu dirombak ulang, bahkan dicabut.

Apa yang terjadi?

Apakah sistem informasi akunting tersebut bisa bekerja sesuai keinginan client tersebut? Tidak. Justru sebaliknya, malah jadi ngga karuan. Dan proyek jadi buntu alias jadi dead project. Sampai akhirnya PC baru dengan sistem operasi Windows 95 muncul di pasaran, sistem tersebut belum bisa dijalankan.

Software memang produk teknologi. Teknologi yang dikerjakan dari proses, untuk proses dan oleh proses. Membuat software tidak seperti membuat nasi goreng. Anda bisa makan nasinya saja, tanpa bumbu, tanpa kerupuk, tanpa daging, tanpa telor.

Masalah muncul karena orang pesan “nasi goreng” ke pengembang software.

  1. “Saya mau tambah ini, besok udah selesai ya”
  2. “Tampilannya harus diganti, saya lebih suka pakai warna biru”
  3. “Kan tinggal tambah ini aja, gampang kan…”

Heyyyyyy…. mau pesan “nasi goreng” atau hamburger? Gampang gundulmu!

Proses yang berantakan: akhirnya software asal jadi, kualitas rendahan, lebih banyak bug daripada fungsi. Dan baik pengembang software dan clientnya bekerja lebih banyak hanya untuk memproduksi bug dari pada memproduksi software.

Hanya karena kita pengen beda. Karena kita bukan kapitalis, bukan komunis, bukan barat, bukan timur, bukan mereka, bukan siapa-siapa….

Akhirnya kita jadi bangsa yang serba bukan-bukan.

Update 26-08-2008:
Baca juga Generalisasi, Konteks dan Fenomena

Read Full Post »

Saya menemukan Freemind, software open source untuk mind mapping. Kalau sebelumnya, saya pernah pakai Mindjet MindManager (shareware). Freemind ditulis dalam bahasa Java. Sangat cepat. Ringan dan juga simpel.

Untuk mendownloadnya, silakan ke situs Freemind di Sourceforge.

http://freemind.sourceforge.net/

Read Full Post »

Saya menemukan petunjuk ini dari buku review buku Catastrophe Disentanglement: Getting Software Projects Back on Track. Sangat bermanfaat untuk menjaga keberlangsungan software development.

  • Evaluate where your project really stands
  • Align your project’s developers, managers, and customers
  • Define the minimum acceptable project goals that are achievable
  • Replan your project to successfully deliver the new minimum goals
  • Identify risks in your revised project and create effective contingency plans
  • Install an “early warning system” to keep your rescued project from slipping back toward catastrophe.

Read Full Post »

The first question people ask when they talk about version control is, What tool are you using? This is a practical question that reveals the important impact tools have on the way we work.

Although the tool influences how you work, it should not be the main concern. Of course, tools with a feature set that matches your needs make things work better. But the most important thing is to balance the capabilities of the tool with the needs of the organization and the developers. It is critical to make the processes easy so that people will follow them. Another aspect that this book shares with advocates of agile development is that it is the people on a team and what they do that is important, or as the Agile Manifesto says, “Individuals and interactions are more important than processes and tools.”

When you find that an everyday practice needs a large number of (hard to remember) manual steps, you may want to question the capabilities of the tool or the value of the practice.

Taken from: Software Configuration Management Patterns: Effective Teamwork, Practical Integration

Read Full Post »

Older Posts »