Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘software development’

Semua generalisasi itu berbahaya, termasuk pernyataan ini.
~Filsafat Ilmu, Jujun Suriasumantri

Pada posting sebelumnya, yang berjudul Bangsa yang serba bukan-bukan saya berangkat dari sebuah sudut pandang atau sebuah perspektif seorang manager (yaitu senior saya), kemudian membandingkan kesimpulan tersebut dengan perspektif lainnya yaitu sosial. Hasilnya memang aneh dan agak lucu. Aneh, karena rasanya ada kemiripan. Lucu, karena istilah “serba bukan-bukan” itu bisa nyambung.

Namanya juga sharing, ngobrol, ceritanya kan lagi konsultasi sama yang lebih senior. Tentu pembicaraannya jauh dari konteks teknis atau konteks bisnis. Karena yang dicari adalah nasihat, bukan juklak dan juknis. Hasilnya: sebuah generalisasi.

Kalau dihubungkan dengan konteks tertentu, ya belum tentu ada kesepakatan. Bisa benar, bisa salah. Beda lapangan masalahnya, ya beda juga penanganannya. Walaupun Hukum Newton itu sifatnya invariant (tetap berlaku) dalam Teori Relativitas, ada yang namanya transformasi Laplace dan Hamilton bukan?

Generalisasi berhubungan dengan relasi antar fenomena. Konteks berhubungan dengan kondisi awal, kondisi akhir, syarat batas, magnitude dan operator yang digunakan.

Fenomena? Ternyata bukan di Indonesia aja tuh. Di negeri asalnya, Amerika sono juga begitu. Di Malaysia pun begitu, di Australia pun begitu, di Inggris pun begitu.

Jangan lupa, cerita tersebut terjadi di era awal 90-an. So yesterday…

OK, ebonk. So what’s your point?

Saya akui posting sebelumnya itu memang generalisasi. Karena jika dibuat sesuai konteks masing-masing, lebih baik dibikin thesis aja kali ya.

Kalau tulisan itu menimbulkan persepsi lain, dianggap menjelek-jelekkan bangsa sendiri, ah… rasanya memang tidak mudah untuk obyektif , tapi mohon dimaafkan.

Terima kasih untuk semua komentarnya. Maju terus Indonesia!

Iklan

Read Full Post »

If you think that technology can solve your security problems, then you don’t understand the problems and you don’t understand the technology. ~Bruce Schneier.

Bangsa ini punya kebiasaan yang unik. Tidak mau dibilang kapitalis, tapi tidak mau dibilang komunis juga. Tidak mau dibilang konservatif, tapi tidak mau dibilang radikal juga.

“Kita bukan barat, kita beda dengan barat”

“Kita bukan blok timur, kita non-blok”

Saya punya kisah dari seorang senior yang pernah bekerja di IBM. Pada awal periode 90-an, dia menawarkan produk software akunting buatan luar negeri untuk dijual di Indonesia. Yang namanya software akunting, pasti harus sesuai standar yang berlaku di sana dan mengikuti aturan yang ditetapkan yaitu Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

Seorang client berminat dan membeli produk tersebut. Tapi setelah client tersebut melihat tampilan dan alur program tersebut, dia meminta software tersebut diubah. Mengapa?

  1. “Karena kita beda, mas! Kita ngga ikut standar yang ada”.
  2. “Tampilannya kurang sesuai dengan yang kita mau.”
  3. “Kita mau fitur-fitur ini dihilangkan, karena kita ngga pake”
  4. “Kebutuhan saya beda dengan orang lain, jadi harus diganti”

Akhirnya software tersebut “dimodifikasi” agar sesuai keinginan client tersebut. Tambah ini itu. Tampilannya dirombak sedemikian rupa. Fitur-fitur tertentu dirombak ulang, bahkan dicabut.

Apa yang terjadi?

Apakah sistem informasi akunting tersebut bisa bekerja sesuai keinginan client tersebut? Tidak. Justru sebaliknya, malah jadi ngga karuan. Dan proyek jadi buntu alias jadi dead project. Sampai akhirnya PC baru dengan sistem operasi Windows 95 muncul di pasaran, sistem tersebut belum bisa dijalankan.

Software memang produk teknologi. Teknologi yang dikerjakan dari proses, untuk proses dan oleh proses. Membuat software tidak seperti membuat nasi goreng. Anda bisa makan nasinya saja, tanpa bumbu, tanpa kerupuk, tanpa daging, tanpa telor.

Masalah muncul karena orang pesan “nasi goreng” ke pengembang software.

  1. “Saya mau tambah ini, besok udah selesai ya”
  2. “Tampilannya harus diganti, saya lebih suka pakai warna biru”
  3. “Kan tinggal tambah ini aja, gampang kan…”

Heyyyyyy…. mau pesan “nasi goreng” atau hamburger? Gampang gundulmu!

Proses yang berantakan: akhirnya software asal jadi, kualitas rendahan, lebih banyak bug daripada fungsi. Dan baik pengembang software dan clientnya bekerja lebih banyak hanya untuk memproduksi bug dari pada memproduksi software.

Hanya karena kita pengen beda. Karena kita bukan kapitalis, bukan komunis, bukan barat, bukan timur, bukan mereka, bukan siapa-siapa….

Akhirnya kita jadi bangsa yang serba bukan-bukan.

Update 26-08-2008:
Baca juga Generalisasi, Konteks dan Fenomena

Read Full Post »

Evans Data melakukan survey yang melibatkan lebih dari 1200 developer dari seluruh dunia untuk menentukan:

  • IDE yang menyediakan toolset terbaik
  • IDE yang menyediakan technical support terbaik
  • IDE yang mendapatkan kepuasan pelanggan terbaik

Berikut ranking IDE teratas.

  • Adobe Macromedia Studio/ Creative Suite 3
  • CodeGear Delphi
  • IBM Rational Application Developer
  • Microsoft Visual Studio
  • MyEclipse
  • NetBeans
  • Oracle JDeveloper
  • Sun Studio

Fitur-fitur teratas yang dipilih:

  • Debugger
  • Editor
  • Make/Build Functions
  • Documentation
  • Application Modeling Tools
  • Web Design Tools
  • Sample Applications
  • Profiler
  • Compiler Performance
  • Performance of Resulting Applications
  • Ease of Use
  • Ability to Integrate 3rd Party Tools
  • Availability of 3rd Party Tools
  • Quality of Technical Support Options
  • Size and Quality of Developer Community

Sumber: Evans Data | IDE Survey

Baca juga: CIO.COM | Developers Rate Satisfaction with Their IDEs

Read Full Post »

Bagi Anda yang senang belajar Ilmu Sains seperti Matematika dan Fisika, Anda pasti menemukan bahwa pekerjaan coding jadi semakin mudah. Sebab model-model yang diciptakan oleh para Matematikawan dan Fisikawan itu sangat efektif digunakan di dunia komputasi.

Sebagai contoh, biasanya orang menggunakan algoritma rekursif untuk mengolah data hierarki. Dengan algoritma rekursif dengan loop tunggal atau satu dimensi, bisa memakan waktu lama dan mengkonsumsi CPU cycle yang tidak sedikit. Tentu kita bicara model data hierarki dengan jumlah data yang banyak (>1jt row), dengan level hierarki yang banyak pula. Tiap level menggunakan satu query yang berbeda dan CPU butuh alokasi stack baru untuk mengeksekusinya.

Dengan model yang dipelajari dari Teori Graph, model hierarki cukup menggunakan satu query, dengan satu loop saja untuk merender sekian juta row dengan jumlah level yang banyak. Jadi processor hanya menggunakan satu stack saja.

Itu baru satu contoh sederhana. Banyak contoh lain yang modelnya saya adopsi dari model-model matematika dan Fisika yang saya temukan di course notes, tutorial, dan artikel-artikel Wikipedia.

Read Full Post »