If you think that technology can solve your security problems, then you don’t understand the problems and you don’t understand the technology. ~Bruce Schneier.
Bangsa ini punya kebiasaan yang unik. Tidak mau dibilang kapitalis, tapi tidak mau dibilang komunis juga. Tidak mau dibilang konservatif, tapi tidak mau dibilang radikal juga.
“Kita bukan barat, kita beda dengan barat”
“Kita bukan blok timur, kita non-blok”
Saya punya kisah dari seorang senior yang pernah bekerja di IBM. Pada awal periode 90-an, dia menawarkan produk software akunting buatan luar negeri untuk dijual di Indonesia. Yang namanya software akunting, pasti harus sesuai standar yang berlaku di sana dan mengikuti aturan yang ditetapkan yaitu Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).
Seorang client berminat dan membeli produk tersebut. Tapi setelah client tersebut melihat tampilan dan alur program tersebut, dia meminta software tersebut diubah. Mengapa?
- “Karena kita beda, mas! Kita ngga ikut standar yang ada”.
- “Tampilannya kurang sesuai dengan yang kita mau.”
- “Kita mau fitur-fitur ini dihilangkan, karena kita ngga pake”
- “Kebutuhan saya beda dengan orang lain, jadi harus diganti”
Akhirnya software tersebut “dimodifikasi” agar sesuai keinginan client tersebut. Tambah ini itu. Tampilannya dirombak sedemikian rupa. Fitur-fitur tertentu dirombak ulang, bahkan dicabut.
Apa yang terjadi?
Apakah sistem informasi akunting tersebut bisa bekerja sesuai keinginan client tersebut? Tidak. Justru sebaliknya, malah jadi ngga karuan. Dan proyek jadi buntu alias jadi dead project. Sampai akhirnya PC baru dengan sistem operasi Windows 95 muncul di pasaran, sistem tersebut belum bisa dijalankan.
Software memang produk teknologi. Teknologi yang dikerjakan dari proses, untuk proses dan oleh proses. Membuat software tidak seperti membuat nasi goreng. Anda bisa makan nasinya saja, tanpa bumbu, tanpa kerupuk, tanpa daging, tanpa telor.
Masalah muncul karena orang pesan “nasi goreng” ke pengembang software.
- “Saya mau tambah ini, besok udah selesai ya”
- “Tampilannya harus diganti, saya lebih suka pakai warna biru”
- “Kan tinggal tambah ini aja, gampang kan…”
Heyyyyyy…. mau pesan “nasi goreng” atau hamburger? Gampang gundulmu!
Proses yang berantakan: akhirnya software asal jadi, kualitas rendahan, lebih banyak bug daripada fungsi. Dan baik pengembang software dan clientnya bekerja lebih banyak hanya untuk memproduksi bug dari pada memproduksi software.
Hanya karena kita pengen beda. Karena kita bukan kapitalis, bukan komunis, bukan barat, bukan timur, bukan mereka, bukan siapa-siapa….
Akhirnya kita jadi bangsa yang serba bukan-bukan.
Update 26-08-2008:
Baca juga Generalisasi, Konteks dan Fenomena

he he he.. bukankah konsultan harusnya memenuhi setiap keinginan client… bukanya client yang harus dirubah mengikuti alur software
wah cerita yang menarik.. btw ini bukan curhat kan
hehehe
ada ada saja hehehe
Wiih. . . Masuk top post nih
wueheeehehehehe……yang bukan-bukan aja…jangan-jangan bukan cerita beneran juga….cakakakak..
bukan begini, bukan begitu..bukan…?
nggak ke barat nggak ke timur……jadinya diam di tempat ya…
wah ini sih biasa bro..
namanya aja klien. sotooyyy
Hanya ada prinsip, Apa yang anda pikirkan itu yang anda dapatkan.
Ketika kita ingin berkembang tapi g mau keluar modal
Ketika kita ingin sukses tapi g mau usaha
semua itu hanya sebuah ungkapan ego, mari kita bicara dari hati ke hati, bukan dari emosi ke emosi dan gengsi gengsi
dari ceritanya menarik, saya mengalami kejadian yang mirip tapi sebaliknya setelah dirubah jadi makin mantab bukan makin kalapppp he…. peace man…
salam delphier….
http://www.ekoindri.wordpress.com
(promosi gratis…. he….3x)
Hehe barusan mengalami ya ?
Semua ini kembali ke kesepakatan dengan client,
- kalau yg dijual adalah produk, maka client tidak bisa mengubah fitur seenaknya.
- Sedangkan kalau yang dijual basisnya project, maka client bisa menyiapkan fitur fitur yang diinginkan kemudian pengembang akan membuat software sesuai spek yang diinginkan.
kalau client ingin mengubah produk sesuai sistem dia, ya ga bisa, maka akan masuk dalam ranah project, harganya project juga berbeda dibanding produk
nyidir ini namanya…..
“Heyyyyyy…. mau pesan “nasi goreng” atau hamburger? Gampang gundulmu!
Proses yang berantakan: akhirnya software asal jadi, kualitas rendahan, lebih banyak bug daripada fungsi. Dan baik pengembang software dan clientnya bekerja lebih banyak hanya untuk memproduksi bug dari pada memproduksi software. ”
wakakakakaka….
mirip kerjaan (konsultan) desain ya…..well, para klien memang masih butuh bimbingan “ke arah jalan yg benar” – peace ^_^
Saya rasa konteks yang dipergunakan ini berbeda dan tidak relevan. Kalau kita bicara bangsa, kita bicara kepribadian. Kepribadian tidak ada standartnya. Karena kepribadian adalah gambaran atas diri manusia itu sendiri.
Tidak ada satu manusiapun yang sama persis diatas bumi ini. Berbeda dengan software atau hardware atau apapun yang bisa dibuat sama.
Pada sistem kehidupan manusia, walaupun sama2 barat, belum tentu nilai2 yang dipegang sama. Soal mau atau tidak disebut barat, itu cuma sekedar ‘nama’ tapi secara prinsip, walaupun sama2 barat, mereka tetap berbeda karena budayanya masing2 berbeda.
Karena itu, tulisan ini menurut saya tidak relevan dan tidak bisa digeneralisir untuk menilai kehidupan bangsa siapapun diatas bumi ini. Thanks
@Ayom
Saya akui itu memang generalisasi.
Memang keinganan orang itu macem2,semua pen mudah dan sederhana.mmg software ini dibikin untuk mempermudah suatu proses.Tp menuju tahap utk mudah dan sederhana itu memerlukan proses.jadi saran dan kritik dijadikan motivasi utk maju dan membuat sesuatu yg LEBIH
SEMANGAT terus dan salam SUKSES!!!
Itulah REPUBLIK yang kata PEMERINTAH SEKARANG bersama kita bisa….
Yah benar BISA KO, BISA KOIT, BISA DIAMBIL SEMUA ASET, BISA NAIKKAN HARGA, BISA MEMBUAT SUSAH….
Yeah!!!!
hiduplah Indonesia Raya… 1.. 2.. 1.. 2.. *halah*
huehue… emang tidak konsisten nih negara…
jadi… tugas kita memperbaiki negara ini… minimal dari diri kita, keluarga dan teman2 kita… tul tho..
#Ayom,
Nice explanation. I agree with you
gw juga kerja diperusahaan yang kurang lebih bergerak dalam bidang yang sama.
emang yah kadang client itu suka nganggep hal” ky gitu gampang…. padahal buat ngebangun softwarenya aja butuh waktu lama…:(
tapi kita harus tetep sabar…!!!
Yah, seharusnya programer tentu mengikuti kemauan client.
Tapi masalahnya mungkin di “gampang lan?” ada ego yg terlukai… xixixixiii…
It’s alaways happen bro….
itulah budaya orang kita yang bangga karena merasa beda. dalam implementasi s/w alternatifnya ada 2. satu full customized s/w, dijamin s/w susah akan berjalan lancar, karena perlu orang (juri) yang bisa menentukan bisnis proses yang benar dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, this will lead to never ending project, karena kebutuhan user akan terus berubah dimana aplikasi tidak akan pernah fit dengan kebutuhan tersebut. dua, membeli s/w yang menjadi standard industri misal SAP dimana didalamnya sudah meng-accomodate best practices. customizing yang dianjurkan
disini adalah memilih business scenario yang sudah disiapkan. kalau terpaksa customizing khas kita masih bisa dimasukan tapi mesti sangat dibatasi dan tidak menyangkut proses bisnis utama. rulesnya: sesuaikan business process perusahaan mengikuti best practices yang ada di s/w.
wah, ternyata masih lebih beruntung para desainer. setidaknya mereka tidak berperang dengan bug
Berapa persen bonk ketemu klien yang begitu? Sukses terus bonk!
Meskipun gak begitu nyambung dengan isi tulisannya, kutipannya sangat bagus. Bruce Schneier memang gurunya security.
Memang paling enak software ya made in sendiri. Bisa dikustomisasi sesuka hati…
Ya itu sudah konsekuensinya dalam implementasi software. Apalagi kalo software tsb dibuat dengan mengikuti suatu aturan tertentu yang mungkin tidak berlaku di tempat lain alias tidak general. Begitulah suka dukanya…
Sedikit banyak saiyah mengerti perasaan penulis (mas/mbak ya?). Terkadang malah orang2 di “sini” itu pengen memodif sesuatu yang memang udah “best practice”. Jadinya.. ya “worst practice”. XD~
Dan memang seh (mengutip seseorang), software development itu sesuatu yang batasannya gak jelas. Laen ama bangun gedung, kan jelas tuh, kalo gedungnya udah jadi, ya udah. Tapi dalam software development, kemungkinan atas perubahan itu gede banget. Makanya, kalo dari developer gak pinter2 membatasi/menahan diri (soale kadang developernya juga nerima karena ngerasa “bisa” dan emang software-nya bisa disempurnakan), karena untuk mencapai titik “kesempurnaan” itu juga gak mungkin.
ho~h… panjang amat ye? ^^
yah gitu deh… gw jg sering gt kalo ada proyek web… menyebalkan… enaknye gimana bonk?? junior ente minta saran ini…
sepakat mr. ebonk…
tapi toh kt masih bs untung dgn situasi seperti itu..
heheheh…cari duit…cari duit…
emang client maunya seerpti itu. ya pinter2nya system analyst buat mengarahkan ke alternatif yang paling possible. tapi ya susahnya kalau client gak ngerti…
bikin software gak gampang, bikin software gak mudah tapi software mesti user oriented, karena software mesti harus bisa memudahkan. untuk apa software di buat kalo ternyata bukan malah memudahkan tapi malah menyulitkan….budaya menghargai sebuah kritik yang mesti di tanamkan ke bangsa kita, karena kebutuhan tiap orang beda…
Lucu jg pengalaman tersebut. Tapi kalo menurut saya, sang programmer juga kurang pro aktif menanggapi si klien. Sebagai programmer harusnya kita kasih advis bahwa keinginan si klien gak bisa diterapkan karena gak sesuai dengan standar GAAP atau gak sesuai dengan standar os yg berlaku saat ini, dst.
Ok, sukses selalu..
Memang yg namanya klien maunya banyak, di sinilah peran kita sebagai programmer atau konsultan atau apa pun untuk memberi advis. Kalo kita cuma ikutin maunya klien dan dapat berakibat buruk, kita secara gak langsung sudah melakukan “malpraktek”. Pada dunia hukum saya geluti, hal tersebut kerap terjadi kok..
yah seperti itu terkadang klien… hueheuehehuueh
saya ajah dah ngasih harga murah, masih di marah2innn…. namanya jg harga murah, kualitas yah d kuranginnn a.k.a males2annnn… wakakakakaka
salam,
Faizal-edrus.com
hahaha….
sepertinya ada yang kesal hati nich,
potret realita masyarakat indonesia yach,
tapi yakinlah,
di setiap dada manusia indonesia,
akan tetap ada cinta bagi negeri ini yang membara,
Optimisme didalam Lubang Besar rasa Pesimis,
hmm, dasar negeri “bukan-bukan” yang kucinta!
gak udah pake emosi mas…
kebanyakan client semua begitu…
dan itulah tipikal bangsa kita, selalu ingin beda tapi gak ada tujuan dan konsep pasti sehingga kalau mencari jati diri hasilnya ngawur, bisa bisa malah ngikut sana ngikut sini, tapi kalau du bilang ikut2an gak mau…
hidup indonesia, (bangsa yang aneh tapi aku suka karena aku orang indonesia)
ceciee.. software programmer ni.. keren euy. saya mah kuliah di jurusan black stone burner ajah
Saya tetap cinta Indonesia…tidak suka kadang-kadang, tapi sudah terlanjur cinta, sih…
http://www.globalwarmingsolution.wordpress.com
Peace!
Ya itulah bangsa kita, bangsa anda juga kan??
Tidak perlu anda jelek2an bangsa ini…
Kalau memang salah silahkan umpat, tapi jangan hanya karena segelintir orang saja, lalu anda menjustifikasi seluruh negeri ini seolah-olah seperti itu adanya…
wah ini betul-betul BETUL !!!
betul kejadiannya memang persis seperti itu di lapangan…
sumpah, keselnya luar biasa…
begitu kita udah ikutin mau mereka, maunya berubah lagi, kita ikutin lagi, berubah lagi, dst, sampai akhirnya maunya kaya yang awal aja…
AAAaaaaarrrggghhh….. !!!!!
O ya.
salam kenal ya (^_^)
#ayom
Setuju, kepribadian setiap bangsa bahkan pribadi justru harus unik, sementara untuk teknologi, memang arahnya pembakuan.
Juga dalam hal politik antar bangsa, prinsip kita adalah negara non-blok, bukan blok barat juga bukan blok timur, menurut saya tetap relevan, dan ini tidak menjadikan kita menjadi negara serba bukan – bukan.
Yang serba bukan – bukan justru ketika kita melihat ada bangsa Indonesia yang mencoba menjadi pengekor bangsa lain. Coba bayangkan seseorang, namakan saja Alpa. Si Alpa yang seorang asli sunda misalnya, rajin memakai pemutih sehingga kulitnya ya aslinya sawo matang sekarang sudah jadi putih mulus, tentunya juga mengecat rambutnya sehingga menjadi pirang. Si Alpa tentunya juga tidak kenal baju kampret atau beskap, sehari – hari tentu saja pakai setelan pantalon yang belum satu abad lampau, buyutnya melarang kakeknya memakainya. Tidak cukup itu, Si Alpa juga lebih fasih bahasa Inggris dan hanya mengenal aksara latin, kelabakan kalau membaca majalah mangle, apalagi membaca aksara Sunda. Kalau sudah begini, apakah Si Alpa bukan orang sunda lagi ? Ataukah sudah menjadi bule ? Ataukah bukan keduanya ?
Berkaitan dengan contoh tentang pengembangan P/L akuntansi.
.
-1- Sebetulnya di Indonesia juga mengenal
-2- Tatalaksana Persyaratan (Requirement Management) memang menjadi penyebab utama kegagalan proyek pengembangan P/L di seluruh dunia. Jadi kejadian di atas wajar – wajar saja
-3- Pengembangan P/L di Indonesia jarang menggunakan tatanan penjaminan mutu (Quality Assurance System) semacam ISO-9001 atau lebih khusus lagi CMMI. Tatanan semacam ini mewajibkan dijalankannya Tatalaksana Persyaratan secara taat asas.
Maaf, ada yang kurang ketik untuk nomor -1-, seharusnya:
-1- Sebetulnya di Indonesia juga mengenal pembakuan tata cara akuntansi, yaitu Prinsip – Prinsip Akuntansi Indonesia, yang dikeluarkan oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) yang mencakup beberapa PSAK (Prinsip Standar Akuntansi Keuangan) dan ISAK (Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan), seperti terdaftar pada http://www.iaiglobal.or.id/id/standar/daftar_PSAK.htm.
Negara lain juga punya pembakuan sendiri – sendiri, seperti Inggris memiliki sendiri UK GAAP. Dan yang berlaku internasional IFRS (International Financial Reporting Standards).
[...] posting sebelumnya, yang berjudul Bangsa yang serba bukan-bukan saya berangkat dari sebuah sudut pandang atau sebuah perspektif seorang manager (yaitu senior [...]
komentar komentarnya jago semua, disini saya cuma bisa bilang sekali merdeka tetap merdeka kawan..lam kenal kalo sempet mampir ke sketsaku http://www.chowzn.wordpress.com
Wah.. curhat ya..
Memang “gundul” sih.! Yeah.. udah dari sononya kali tercipta sistem amburadul, jadinya sontoloyo khan mas.
Ini cerita laen. Waktu aku smp, aku pernah jadi piket. Piket waktu itu pakai seragam seperti polisi, pakai atribut dan asesorisnya polisilah. Nah, suatu kali ada tamu orang tua murid mau jumpa anaknya yang sekolah disitu. Jasa (bukan jasa sih, khan tugas) yang kutunjukan hanyalah kelasnya doang. Setelah kutunjukan kelasnya dengan hanya pake jari telunjukku, siorang tua tersebut merogoh kantongnya dan memberikan duit kepadaku. Jelas aku bingung 7 keliling. Duit ini untuk apa???
Lama aku sadari…. Mungkin si orang tua ini sudah “biasa” ngasi upeti kalau ada jasa… Sableng..
Benar nggak didikan untuk penerus bangsa sekarang..
Tanya siapa..???
aku pernah mengalami kejadian seperti itu
pas dikejar laporan fiskal
dan programnya ancur karena olh orang-orang yang sok pinter dan tidak bertanggung jawab
tegang banget, rasanya
laporan fiskal je…..
sampai telat bisa kena masalah dengan kantor pajak
wah kalau gitu yang disalahin siapa dong..
client bukan, programmer bukan, n ga mungkin kan tukang nasi goreng yang salah..
klo dianggap salah ya kedua2nya juga salah sih hhehe…
ya gpp..harus memenuhi keinginan konsumen ataukah
kita harus adaptasi dengan teknologi baru dari luar?
kita kembali bertanya
hehe…. ya maklumlah Indonesia…
tapi judul ama isinya rada gak nyambung yak
Sabar mas…
saya juga bekerja dibidang Konsultan Software, khususnya dibidang Process Control dan Automation.
Dari pengalaman saya, yang namanya konsumen pasti mintanya macam2, dan inginnya bisa selesai dalam waktu yang sesingkat2nya.
Terus terang, hasilnya memang masih banyak bugs nya. Tetapi seiring dengan waktu dan Pihak konsumen pun mengerti, kami dapat membenahi seluruh bugs yang ada pada program buatan kami
Iya memang. Bukan ini bukan itu. Jangan-jangan kita ini bukan bangsa indonesia.
Setidaknya kita bisa mulai belajar dari tulisannya mas ebonk ini,
begitulah “orang indonesia”
daripada jd kuli “tukang ketik”… mendingan jualan nasi goreng aja… wakaka
hahahahaha artikel anda memang bagus namun sayang mengapa indonesia sebagai negeri tempat kita mencari sesuap nasi harus menjadi bahan tertawaan bangsa sendiri ” kasihan akan nasionalisme kita”
memang saya akui indonesia masih dalam tahap pengembangan namun dari itu sudah semstinya kita sebagai generasi muda berusaha memperbaiki diri untuk indonesia yang lebih maju okey bro!!!
salam bloggger!!!
pancasila kita juga bukan-bukan. bukan liberal bukan komunis.
baca di http://onisur.wordpress.com/2008/07/25/pancasila-sebagai-masalah/
Hei, mengapa kita tidak menggunakan aplikasi Open Source??
Harganya lebih murah, bahkan kebanyakan gratis…
kode sumbernya juga tersedia dan bebas utk dimodifikasi,
jadi buat apa pesan ke orang lain, lebih baik modif sendiri.
http://rotyyu.wordpress.com
Kalo ngikuti alus DSS dan SIM dengan bener bisa2 emang gak jadi2 software
klo kita jualan software jadi ya dibatasi dengan tidak bisa dirombak, klo kita menawarkan konsep ya mau ndak mau ikut udelnya client
hihihihi
Emang suka ga standar tuh sistem keuangannya, maknnya banyak instansi yang ga lolos audit. Persoalan bukan di soft ware di persoalan ini.
)
Kadang juga pembuat software ga mikir siapa penggunanya. Jadi bahkan mesti ngajarain gimana nyalain komputer
Two thumbs up…Bong..
Lu menyuarakan isi hati banyak ISV dan developer di Indonesia.
Gua tutup poin aje nih….
Solusinya simple:
1. Buat business process analysis.
2. Ikuti System Development Methodology dengan baik.
Sudah.
O.K?!
@sigit
Teori, Pak! Coba sendiri praktekkan teori itu di sini
@ayom
terima kasih karena telah memperjelas konteks.
@Bengkuluutara
terima kasih karena telah menghargai tanah air ini
Ngk bisa di salahin dua2 nya, semua harus saling mengerti.
Client : kami ingin seperti ini , ono dan begono..!
Developer : kami bisa seperti ini, ono , dan begono…!
client : Kenapa…?
developer : Kenapa…?
Client : karena bla…bla…bla…
developer : Sofwarenya jadi bla..bla…bla..
Solution : If bla…bla…Bla…
then bla…bla…bla…
else bla…bla…bla…
Ini masalah klasik yang sering dialami programmer lokal.
Kebanyakan customer masih berasumsi bila menerima software siap pakai tanpa modifikasi ibarat belanja di pasar traditional tanpa tawar-menawar.
Harga pasaran bayam 3.000 per kilo Anda jual 2.000 per kilo tetap akan ditawar 1.500 per kilo (namanya juga usaha), walaupun si konsumen sudah tahu itu adalah harga termurah dengan mutu terbaik yang bisa dia dapatkan.
Prinsipnya saya hanya akan modif program paket saya bila saya yakin tidak akan ada masalah dari perubahan tersebut, selebihnya saya akan tawarkan software “tailor made” yang dibangun dari nol sesuai dengan keinginan si customer.
namanya juragan yg punya uang maunya ya yg sesuai dengan selera juragan.
cuman kite2 hrs pinter mengarahkan juragan yg gaptep.
sebelum project dimulai tulis dulu apa maunya dan spesikasinya di list dan disetujui bersama jng sampai berubah ditengah jalan.
siip, sukses sll.