Oleh: Rhenald Kasali
Saya mohon maaf harus absen mengisi kolom ini beberapa kali. Sejak buku Change beredar, Saya terpaksa harus mempertanggung -jawabkan pemikiran-pemikiran Saya kepada publik. Banyak kisah nyata tentang perubahan yang Saya temui dan tentu saja ribuan curhat dari mereka yang rela dicaci-maki demi perubahan.
Menjadi Change Maker memang tidak mudah. Surat kaleng, SMS palsu, fitnah, sampai upaya-upaya fisik yang mematikan kerap harus dihadapi. Kepada kelompok ini, Saya hanya bisa mengatakan, Gandhi saja yang wajahnya begitu baik dan perilakunya menyejukkan, mereka bunuh, apalagi Anda yang bukan siapa-siapa.
Persoalan terbesar manusia di era yang berubah ini sebenarnya hanya satu, yaitu tidak berani menerima realita-realita baru. Sebagian besar karyawan, eksekutif dan birokrat yang Saya temui masih terbelenggu pada kisah sukses di masa lalu. Mereka berpikir solusi yang mereka temukan di masa lalu itulah solusi yang sesungguhnya.
Buktinya ada, yaitu bonus dan kesejahteraan. Makan siang disediakan dan karyawan bisa bergantian memainkan alat musik. Mengapa kita tidak pakai cara yang sama untuk mengatasi masalah hari ini? Seperti menemui jalan buntu, banyak orang yang tiba-tiba mulai menggunakan kata “Dulu ……” ketika memulai pembicaraannya untuk mengacu ke masa lalu.
Sinar terang yang menyinari suatu usaha bisa berarti manfaat, tapi juga bisa menjadi mudharat. IBM contohnya, sukses dengan komputer mainframe di tahun 70′an membuatnya menyangkal realita baru pasar PC. Motorola bahkan lebih gawat lagi. Setelah sukses dengan celluler analog, ia menyangkal kehadiran digital handphone dengan melakukan investasi-investasi baru pada bidang analog. Xerox juga sempat terengap-engap saat menyangkal kenyataan munculnya pasar personal-copier yang dirilis Minolta, Canon dan Ricoh. Ensiklopedia Britanica juga menyangkal realita baru membaca buku pintar yang diputar oleh Microsoft (Encarta).
Di Indonesia sendiri ada ribuan pelaku usaha yang juga menyangkal realita-realita baru. Teman-teman di perkebunan teh tengah menyangkal kenyataan bahwa masyarakat dunia sudah mulai minum teh tanpa daun teh sama sekali. Sekarang ini, pergulatan terbesar justru tengah dihadapi universitas-universitas negeri. Ada demikian banyak realita-realita baru yang bermunculan dan mereka terus berdebat dengan menggunakan ukuran-ukuran lama untuk menilai hari esok. Mereka menggunakan pengalaman-pengalaman lamanya kala bersekolah yang penuh dengan kesulitan untuk dibingkaikan pada generasi baru yang bergerak dengan cara yang berbeda. Padahal kepada mereka, Albert Einstein pernah menyatakan, “the measure of intelligence is the ability to change” (ukuran kecerdasan Anda adalah kemampuan Anda untuk berubah, menerima kenyataan baru).
Sulit dibayangkan dewasa ini masih ada banyak orang yang hidup di jaman kemarin dan dibiarkan terus mengepalai kegiatan untuk membawa organisasi ke masa lalu, tetapi semua ini juga terjadi karena organisasi dibiarkan dikuasai oleh kalangan “pedalaman” yang sepanjang hari menghabiskan waktunya di dalam kantor tanpa berinteraksi dengan dunia luar sama sekali.
Dalam setiap institusi kita dengan mudah membedakan, mana kalangan “pedalaman” dan mana yang “pesisir”. Kalangan pesisir selalu berinteraksi dengan dunia luar, tetapi ia banyak membawa hal-hal baru. Ia lebih mudah menerima fakta-fakta baru. Sebaliknya kalangan pedalaman cenderung memelihara tradisi. Seorang usahawan senior membisiki Saya, sekarang ini, katanya, “tradition is a number one killer!”. Saya pikir ini ada betulnya.
Disalin dari http://www.careplusindonesia.com

Yup… betul sekali apa yg disampaikan Bp Rhenald Kasali, bahwamasa lalu adalah sesuatu hal yang dapat menghambat langkah kita untuk maju kedepan. Nabi pernah bersabda, Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan lusa harus lebih baik dari hari ini. Artinya bahwa ketika kita sudah melangkan di hari ini, kemarin pasti tidak lebih baik dari hari ini, ya sudah ditinggalkan saja. Kalaupun butuh tengok kebelakang, tengoklah sebntar saja, jangan sampai terlarut kedalam masa lalu.
Seperti yang ditulis pada buku The Power of Now, dimana buku ini mengajak kita untuk secara sadar berada pada saat sekarang, tanpa memperdulikan masa lalu dan yang akan datang, bila kita sedang melakukan sebuah aktifitas tertentu. Artinya kita harus lah FOCUS, atau kalau di muslim disebut dengan khusyu’. Bila kita khusyu’ dalam bertindak, maka hasilnya akan luar biasa, karena disitu ada kekuatan Tuhan yang menopang kita. Dan tentunya dilakukan dengan hati yang bersih dan suci.
Salam Ikhlas…
Ronaldy